Klik Thema

Senin, 21 Januari 2019

WURUNG JUE

Wurung jue adalah burung kuau (Lt. Argusianus argus). Burung ini sebagai salah satu lambang identitas (selain daripada burung Enggang/Rangkok) pada budaya suku Maanyan. Dalam adat pernikahan Maanyan, bulu burung kuau disematkan di ikat kepala mempelai pria dan pada gelungan rambut mempelai wanita kesetiaan terhadap pasangan dalam kehidupan rumah tangga keluarga Maanyan.

Burung kuau memiliki tubuh yang indah dan spesifik. Kuau jantan lebih besar daripada betina. Beratnya adalah 11,5 kg dan panjangnya adalah 2 (dua) meter, termasuk ekornya yg mencapai 1 (satu) meter lebih. Umumnya, kuau jantan buru bberwarna dasar kecoklatan dan dengan bundaran-bundaran kecoklatan, sedangkan untuk betina, ekor dan bulu sayap lebih pendek, berwarna gelap. Kulit disekitar kepala dan leher kuau jantan berwarna kebiruan. Bagian belakang jambul betina, ditumbuhi jambul yang lembut. Warna kaki kuau betina kemerahan dan tidak mempunyai taji/susuh.Suara burung kuau terdengar hingga lebih dari 1 (satu) kilometer. 

Habitat burung ini di hutan dataran rendah hingga ketinggian 1300 dpl. Penyebarannya  di Kalimantan dan Sumatra. Makanan burung ini terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput, semut dan berbagai jenis serangga. Burung ini juga suka mencari sumber air untuk minum sekitar jam 11 siang.

Burung ini hidup bersama dalam kesetiaan dengan pasangannya, jika salah satu mati maka tak berapa lama pasangannya pun akan mati.  Sifat setia ini dan keindahan burung ini menjadi simbol bagi orang Maanyan

Dalam adat pernikahan Maanyan, terdapat kegiatan adat nyama wurung jue yakni rangkaian prosesi acara dalam perkawinan adat Maanyanbertemunya mempelai laki-laki dan perempuan dalam satu ikatan. Pengantin perempuan dijemput oleh beberapa balian dadas (balian perempuan) dan balian bawo (balian laki-laki) untuk dipertemukan dengan mempelai laki-laki.

Kegiatan adat tersebut disebut "nyama wurung jue," atau "mempertemukan burung kuau", karena bagi orang Maanyan, burung ini selain sebagai perlambang kesetiaan dan kesucian perkawinan, juga simbol kewaspadaan terhadap kemungkinan bahaya yang mendekat atau mengancam sebagaimana kebiasaan wurung jue lainnya.

Sumber Gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Kuau

Wurung Jue (Burung Kuau)
Sumber Gambar : https://id.wikipedia.org/wiki/Kuau

Jumat, 18 Januari 2019

PENULISAN DAN BUNYI BAHASA MAANYAN DALAM EJAAN BAHASA INDONESIA


Dalam penulisan bahasa Maanyan ke dalam bahasa Indonesia, terdapat penulisan “huruf” yang berbeda tetapi mempunyai bunyi dan makna yang sama, di antaranya:

1)            w → u atau u → w
Bunyi “w” menjadi  “u” atau sebaliknya “u” menjadi “w”.
Contoh:
-       karewawkarewau = kerbau
Bentuk penulisan lain dari kata karewaw adalah karewau 
-       anrau → anraw = hari 
Bentuk penulisan lain dari kata anrau adalah anraw

2)         m → mm dan u → w
Bunyi  “m” menjadi → mm, atau beserta kombinasi huruf lain u menjadi w
         Contoh:  
-          amau → ammau; amaw; ammaw = panjang; tinggi; jangkung; atas
      Bentuk penulisan lain kata amau adalah ammau; amaw; ammaw

3)        Penambahan huruf  “d” kombinasi dengan “u” menjadi “w”
         Contoh:
-          anrau → andraw = hari

4)            Kata  ditambah dengan huruf “d”
         Contoh:             
-          anri, bentuk penulisan lainnya andri = dengan.
-          manre, bentuk penulisan lainnya → mandre = tidur.
-          manrus, bentuk penulisan lainnya →mandrus = mandi.

5)         Menggunakan huruf “h” dan tanpa “h” atau sebaliknya
Contoh:
-          sah → sa = -kah
-          sapulu sapuluh = sepuluh

6)          Huruf “b” dengan “w”
         Contoh:
-          balian → walian = wadian
-          belum → welum = hidup

7)          Penambahan huruf “w”
         Contoh: marauh → marawuh  = enak; sedap; nyaman; nikmat

8)         Huruf “y” menjadi “i” atau sebaiknya  “i” menjadi “y”
         Contoh:
-          apuy → apui = api
-          tegei → tegey = pegang

9)         Penambahan huruf “y” setelah “i”
Contoh:     iuk → iyuk = cium

10)      Kombinasi penambahan huruf “d” disertai perubahan huruf “u” menjadi o”
         Contoh:    manrus → mandros = mandi

11)       Huruf “u” menjadi “o”
Contoh: 
-          ulun →olon = orang 
-          kalelu → kalelo = kekasih; yang disayangi;  
-          lewu → lewo = rumah;
-          wadian bawo → wadian bawu = wadian laki-laki

Selasa, 15 Januari 2019

ANRI ARAI ATEI


Anri Arai Atei  (Andri Arai Atei) artinya dengan senang hati, dengan riang hati, dengan hati nan gembira. 

Anri Arai Atei juga merupakan judul lagu khas Maanyan sebagai ungkapan bahagia atau melepas rindu dalam suatu pertemuan karena selama ini tinggal berjauhan atau sudah lama tidak bertemu. Lagu ini juga biasa dinyanyikan sebagai sambutan, penghargaan dan sikap kekeluargaan orang Maanyan kepada para sanak saudara, handai taulan, kerabat, tamu atau undangan dalam suatu acara (mis upacara perkawinan).

Berikut syair dan terjemahannya:

Bahasa Maanyan
Bahasa Indonesia
Anri Arai Atei
anri arai atei
takam katuluhni
daya takam  tau panalu
anri naun hang yari
isa lawit unengni
ware takam ngantuh
slamat panalu
Dengan Riang Hati
dengan riang hati
kita semuanya
karena kita dapat bertemu
dengan kalian di sana
yang jauh tempatnya
mari kita ucapkan
selamat bertemu



Senin, 14 Januari 2019

URUK AJAR


Uruk ajar adalah pengajaran, nasihat yang utama yang senantiasa disampaikan oleh orang tua kepada anaknya atau nasihat kakek-nenek kepada cucunya, seperti sikap hormat, patuh dan taat terhadap petuah dan pengajaran orang tua serta bagaimana menjaga nama baik keluarga. 

Contoh dan teladan dalam uruk ajar:
·   Sikap saling tolong menolong terhadap keluarga dan sesama;
·   Taat dan tertib waktu: mulai bangun pagi, ketika bekerja dan waktunya istirahat setelah seharian bekerja;
·   Berbicara dengan tutur kata yang sopan dan suara lembut;
·   Sikap hormat dengan membungkuk ketika lewat di depan orang tua.

Dalam tradisi Maanyan, selain orang tua, kakek (kakah) dan nenek (itak) juga mempunyai peran dan tanggungjawab dalam membentuk karakter cucu (umpu)-nya melalui nasihat dan petuah yang disampaikan.

Uruk ajar berasal dari kata uruk, artinya ketat, erat, kencang dan ajar, yaitu pengajaran, petunjuk, nasihat yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut);

Ketidaktaatan akan uruk ajar dapat mengakibatkan nasib sial, kesusahan dan celaka dalam kehidupan seseorang.

Jumat, 11 Januari 2019

PULAKSANAI dan IPULAKSANAI

Dalam  bahasa dan budaya Maanyan terdapat istilah  pulaksanai dan ipulaksanai.

Pulaksanai dalam bahasa Maanyan artinya:
1)    saudara kandung; bersaudara sedarah;
2)    kaum keluarga; sanak saudara; pertalian saudara; famili;  
3)    sanak saudara dari keturunan leluhur yang sama;

Sedangkan ipulaksanai merupakan ungkapan budaya Maanyan untuk menggambarkan hubungan kaum keluarga sedarah atau sanak saudara dari keturunan leluhur yang sama (Lihat Utus). 

Secara harfiah, ipulaksanai artinya “bagian dari usus” atau “bersambungan usus.” Berasal dari dari kata:
1)        “i”         = saling; 
2)        “pulak” = bagian dari; tautan dari;  
3)        “sanai”  =  usus
Maknanya hubungan “darah daging,” baik berasal dari ibu, bapak, nenek, kakek  yang sama atau dari nenek moyang garis keturunan ayah maupun ibu yang sama. Setiap anak adalah bagian dari diri orang tuanya dan setiap keturunan adalah bagian dari nenek moyang mereka.

Dengan demikian, dalam pandangan suku Maanyan, bahwa: 
     1)     setiap anak adalah 'bagian dari tubuh orang tuanya;' 
     2)     setiap kaum keluarga, sanak saudara dan kaumnya adalah bagian-bagian dari
             “satu tubuh dari nenek moyang dan leluhur yang sama.”  

Budaya ipulkasanai ini ditanamkan oleh orangtua kepada keturunannya sejak dini melalui didikan dan pengajaran untuk memperlakukan saudara, orang tua dan sesama seperti dirinya sendiri. Karena mereka adalah 'bagian' dari dirinya sendiri. 

Budaya ipulaksanai yang melekat pada masayarakat Maanyan, membentuk sikap dan karakter orang Maanyan untuk saling: mengasihi, tolong-menolong, perduli, setia dan jujur terhadap saudara, orangtua dan sesamanya.

Klik di sini: "UTUS"

Kamis, 10 Januari 2019

DAYAK DI KALIMANTAN


Pulau Kalimantan adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Dayak menghuni pulau Kalimantan sejak leluhurnya pada abad Sebelum Masehi, baik di bagian pulau yang kini menjadi wilayah Indonesia (73%), Malaysia terdiri dari Sabah dan Sarawak (26%) dan Brunei (1%).

Nama Kalimantan berasal dari nama suku Klemantan atau Dayak Klemantan (Dayak Darat) yang tinggal di wilayah Hulu Batang Lupar, Kapuas, Embalon, Sambas, Kalimantan Barat dan Sarawak Malaysia, dikenal juga sebagai suku BidayuhDayak Kelamantan terdiri dari sub suku, diantaranya adalah Kanayatn, Ketungau, dan Toba

Dayak Maanyan dan suku Dayak lainnya di pulau Kalimantan diperkirakan berasal dari wilayah daratan Asia, dan suku-suku ini yang "menemukan kembali", menghuni dan membangun peradaban di pulau Kalimantan

Penggunaan istilah suku migran terhadap Dayak di Kalimantan perlu diluruskan, yaitu:
1.  Dayak bukanlah "suku migran" dalam pengertian kelompok suku yang membaur atau mendiami suatu wilayah yang sudah berpenduduk.  
2.  Dayak bukanlah "kaum pendatang" dalam arti orang datang sebagai orang asing (bukan penduduk asli) yang membaur kepada kelompok suku yang telah ada sebelumnya di bumi Kalimantan. 

Dayak adalah penduduk pribumi sejati atau penduduk asli di tanah yang mereka temukan (aboriginal inhabitants of the land where they are found) atau bangsa pemilik tanah (men of the soil) di wilayah yang belum berpenghuni di daerah baru di pulau Kalimantan.  

Teori sejarah memperkirakan bahwa sebelum kedatangan suku-suku Dayak, pulau Kalimantan sebagai “wilayah tak bertuan.” Meskipun pulau Kalimantan pernah dihuni oleh kaum suku Negrid dan Weddid, tetapi suku-suku tersebut telah punah dari bumi Kalimantan sebelum kedatangan orang-orang Dayak.

Berbeda dengan sejarah keberadaan orang Eropa baik Spanyol atau Inggris merupakan kaum pendatang dan kaum emigran di benua Amerika dan Australia:
  1. Setelah pendaratan pertama Christopher Colombus di pantai Amerika tahun 1492, orang Eropa berimigrasi ke benua Amerika, membentuk koloni dan menguasai tanah suku-suku asli  (pribumi) di sana yang mereka sebut “Indian.” 
  2. Begitu juga ketika kedatangan para penjelajah Eropa di pantai Australia mulai abad ke-17, hingga pada 1770, James Cook memetakan pantai timur Australia dan menyatakan bahwa Australia milik Great Britania (Inggris) dan tahun 1788 ribuan orang Inggris (termasuk para tahanan) didatangkan dan tiba di Botany Bay (sekarang di Sydney), New South Wales mendesak penduduk asli kaum Aborigin.

DAYAK dan DAYAK MAANYAN


Dayak (dituliskan juga Daya, Daja, Dayak, Dajak, Dyak, Djak, Daijaks) merupakan terminologi atau istilah yang berasal dari pihak luar, pertama kali oleh antropolog Barat, untuk menyebutkan suku-suku asli atau penduduk asli pulau Kalimantan (termasuk wilayah negeri Brunei dan Malaysia) secara umum, untuk “membedakan” mereka dengan penduduk dari suku di luar pulau Kalimantan seperti suku Melayu dari Palembang, suku Jawa dari Pulau Jawa dan Bugis dari Makassar.

Istilah Dayak oleh antropolog Barat tersebut, kemungkinan diserap dari bahasa Kenyah (Dayak Kenyah), yaitu kata “Daya” yg  berarti “hulu sungai” atau “pedalaman.” 

Dayak terdiri dari ratusan suku, sub suku dan klan sebagai bangsa pemilik tanah yang tersebar di seluruh daerah pedalaman dan di sekitar sungai-sungai di Kalimantan, dengan ciri khas masing-masing dalam hal asal, penampilan fisik dan adat istiadat mereka, meskipun terdapat persamaan atau kemiripan satu dengan lainnya.

Terdapat empat ratusan suku Dayak dengan bahasa dan tradisi masing-masing. Suku-suku ini mempunyai nama masing-masing, biasanya berdasarkan wilayah, gunung atau sungai tempat mereka bermukim. Seperti suku Kapuas (Dayak Kapuas) di sepanjang aliran sungai Kapuas, suku Bukit (Dayak Bukit) di kaki pegunungan pedalaman Kalimantan, suku Meratus (Dayak Meratus) di pegunungan Meratus, suku Dusun (Dayak Dusun) di wilayah Dusun, suku Darat (Dayak Darat).

Maanyan dalam hal ini digolongkan atau termasuk dalam kelompok Dayak, sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Maanyan sesuai asal usul kata dan sejarahnya, sebagai kelompok suku  yang pergi dan menempati tanah datar berpasir .

Meskipun penamaan "Dayak" bukan berasal dari internal suku, sub suku atau klan penduduk, tetapi secara umum dapat diterima oleh setiap suku sebagai identitas yang menyatukan semua suku, bahasa dan budaya asli di Kalimantan.

Klik di sini: MAANYAN


Rabu, 09 Januari 2019

UTUS

Utus dalam bahasa Maanyan artinya turunan, keturunan, generasi dan juga digunakan sebagai tuturan, yakni panggilan atau sapaan sesuai tingkatan generasinya dalam silsilah keluarga.  

Tingkatan generasi dan sapaan dari pertalian darah keturunan suku Maanyan baik untuk laki-laki dan perempuan dimulai dari yang terdahulu yaitu entah”  sampai generasi ke-10 disebut “alau”  yaitu: 
1.   entah,
2.   muyang,
3.   datu (lk)/dara (pr),
4.   kakah (lk) dan nini/itak (pr),
5.   amah/ambah (lk) dan ineh (pr),
6.   anak/iya,
7.   umpu,
8.   alep, 
9.   alau.

Keterangan:
·      (lk) = laki-laki, (pr) = perempuan;
·       tanpa keterangan (lk)/(pr), berlaku untuk laki-laki dan perempuan

Dapat digambarkan pada tabel sebagai berikut:

Utus
(Generasi)
Bahasa
Maanyan
Indonesia
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
entah  
muyang
datu/dara
kakah/nini(itak)
amah/ineh
iya/anak
umpu
piut
alap
alau
leluhur, cilawagi
moyang
orangtua kakek/nenek
kakek/nenek
bapak/ibu
anak
cucu
cicit
nini
anak dari nini

                                Tabel: Tingkat Generasi dan Tuturan Maanyan

Catatan: cilawagi adalah kosa kata Bahasa Indonesia.  Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia): cilawagi /ci•la•wa•gi/ n nenek dari moyang kita (jadi tingkat kelima dari kita, yaitu: orang tua, nenek, moyang, buyut, cilawagi)


Selasa, 08 Januari 2019

TUMPUK MAANYAN


Tumpuk  Maanyan sebagai desa dan kampung halaman tempat permukiman permanen suku Maanyan. Sejak dahulu, terdapat berbagai Tumpuk Maanyan yang tersebar di berbagai wilayah di Kalimantan, seperti yang kini di wilayah Kabupaten Barito  dan sebagian Kabupaten Barito Selatan (Provinsi Kalimantan Tengah) dan juga di Warukin,  Kabupaten Tabalong (Provinsi Kalimantan Selatan).

Tumpuk bagi masyarakat Maanyan berfungsi sebagai:
·          kawasan tempat rumah (induk),
·     tempat tinggal menetap dan tempat kembali pulang setelah pergi ke tempat lain atau pulang dari batang rawi (pondok di ladang);
·          pusat kegiatan adat;
·         tempat balai adat, untuk menyimpan benda-benda adat dan pelaksanaan kegiatan sosial maupun   adat
    
Dalam adat Maanyan, tumpuk selain sebagai kawasan permukiman, masyarakatnya terikat hubungan kekeluargaan baik dengan adanya ikatan geneologis atau tidak, dan mereka menjunjung adat sebagai tata aturan yang ditaati bersama. Kepatuhan terhadap adat akan lebih meningkatkan persatuan dan kekeluargaan untuk menjamin kesejahteraan kehidupan duniawi dan kehidupan setelah mati.

Antara satu tumpuk Maanyan dengan tumpuk Maanyan lainnya saling berhubungan, dan terdapat tumpuk yang  dianggap sebagai induk berdasarkan ketentuan adat. Dahulu setiap tumpuk tersebut bersifat mandiri dalam wewenang untuk mengatur masyarakat, ekonomi dan pemerintahannya dan mempunyai perangkat pemerintahan sendiri.


Senin, 07 Januari 2019

TUMPUK, PUNDUK, BATANG RAWI DAN BANTAI

Tumpuk artinya desa atau kampung halaman tempat permukiman suku Maanyan. Terdiri dari bebeberapa rumah, tempat aktifitas kehidupan sosial masyarakat dan terdapat balai adat sebagai pusat pelaksanaan kegiatan adat Maanyan seperti pesta pernikahan. Dalam pangunraun, bahasa sastra Maanyan, tumpuk  dikatakan "tumpuk natat bantai rawi ruak tumpungan." terjemahan harfiahnya: kampung halaman tempat bermukim, berhuma-berladang berdampingan, hidup rukun bersama dalam suatu wilayah desa.   

Pada tradisi suku Maanyan terdapat rumah tinggal sementara berupa pondok (Bahasa Maanyan: pundukdi tepi ladang yang disebut sebagai batang rawi. 

Suku Maanyan sebagai masyarakat agraris biasanya membuka kawasan ladang tempat bercocok tanam di area yang jauh dari tumpuk. Kawasan ladang terdiri dari beberapa ladang yang saling berbatasan milik tetangga satu tumpuk. Kawasan perladangan perladangan bersama masyarakat Maanyan inilah yang disebut bantai.  Apabila di suatu daerah wilayah ladang atau pertanian tersebut telah jenuh, mereka akan menanami lahan dengan tanaman karet atau buah-buahan, kemudian orang-orang Maanyan akan berpindah secara kelompok ke beberapa daerah baru untuk membangun bantai yang baru.

Kamis, 03 Januari 2019

MAANYAN

Maanyan merupakan salah satu bangsa pemilik tanah, suku pribumi tertua dan populasi terbesar di pulau Kalimantan. Orang-orang Maanyan adalah penduduk asli yang pertama mendiami wilayah Kalimantan bagian Selatan bermula dari tepian muara sungai Barito. 

Suku Maanyan memiliki bahasa serta kekayaan tradisi, hukum adat, budaya tersendiri yang telah mengalami adaptasi seiring dengan perkembangan zaman dan penyesuaian terhadap keadaan lingkungan di mana mereka tinggal.

Nama “Maanyan” kemungkinan berasal dari kosa kata bahasa Maanyan asli, yaitu “ma” artinya “ke” dan “anyan” artinya “tanah datar berpasir.”  Maanyan berarti “pergi ke tanah datar yang berpasir,” sebagaimana kisah awal mula leluhur Maanyan bermukim di pulau Kalimantan.


Keberadaan permukiman suku Maanyan  di Kalimantan diperkirakan sejak abad Sebelum Masehi. Hal ini didukung oleh bukti-bukti arkeologis dengan ditemukannya situs-situs, beserta fosil-fosil manusia dan artefak batu,  purba, tulang, komponen tubuh manusia, dan cangkang moluska diantaranya yang tertua di situs Gua Batu Babi di Kabupaten Tabalong yang diperkirakan berasal dari abad Sebelum Masehi.


Sejarah mencatat bahwa suku Maanyan sebagai masyarakat agraris, tetapi juga memiliki keahlian bahari dengan pelaut-pelautnya yang tangguh dalam mengarungi luas samudra dan menjalin hubungan perdagangan, sosial dan diplomatik yang erat dengan Madagascar, suatu pulau yang berada di lepas pantai Timur benua Afrika


Suku Merina sebagai etnik terbesar yang ada di Madagascar (65% dari populasi) merupakan keturunan leluhur Maanyan, dilihat dari ciri khas fisik, kesamaan DNA, adat, budaya dan bahasanya. Mereka umumnya menggunakan bahasa Malagasi yang mempunyai banyak kemiripan dan persamaan dengan bahasa Maanyan.  Interaksi, hubungan sosial, perdagangan antara Maanyan dan Madagascar telah terjalin pada abad Sebelum Masehi.

Tulisan Yang Paling Sering Dibaca