Klik Thema

Kamis, 10 Januari 2019

DAYAK dan DAYAK MAANYAN


Dayak (dituliskan juga Daya, Daja, Dayak, Dajak, Dyak, Djak, Daijaks) merupakan terminologi atau istilah yang berasal dari pihak luar, pertama kali oleh antropolog Barat, untuk menyebutkan suku-suku asli atau penduduk asli pulau Kalimantan (termasuk wilayah negeri Brunei dan Malaysia) secara umum, untuk “membedakan” mereka dengan penduduk dari suku di luar pulau Kalimantan seperti suku Melayu dari Palembang, suku Jawa dari Pulau Jawa dan Bugis dari Makassar.

Istilah Dayak oleh antropolog Barat tersebut, kemungkinan diserap dari bahasa Kenyah (Dayak Kenyah), yaitu kata “Daya” yg  berarti “hulu sungai” atau “pedalaman.” 

Dayak terdiri dari ratusan suku, sub suku dan klan sebagai bangsa pemilik tanah yang tersebar di seluruh daerah pedalaman dan di sekitar sungai-sungai di Kalimantan, dengan ciri khas masing-masing dalam hal asal, penampilan fisik dan adat istiadat mereka, meskipun terdapat persamaan atau kemiripan satu dengan lainnya.

Terdapat empat ratusan suku Dayak dengan bahasa dan tradisi masing-masing. Suku-suku ini mempunyai nama masing-masing, biasanya berdasarkan wilayah, gunung atau sungai tempat mereka bermukim. Seperti suku Kapuas (Dayak Kapuas) di sepanjang aliran sungai Kapuas, suku Bukit (Dayak Bukit) di kaki pegunungan pedalaman Kalimantan, suku Meratus (Dayak Meratus) di pegunungan Meratus, suku Dusun (Dayak Dusun) di wilayah Dusun, suku Darat (Dayak Darat).

Maanyan dalam hal ini digolongkan atau termasuk dalam kelompok Dayak, sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Maanyan sesuai asal usul kata dan sejarahnya, sebagai kelompok suku  yang pergi dan menempati tanah datar berpasir .

Meskipun penamaan "Dayak" bukan berasal dari internal suku, sub suku atau klan penduduk, tetapi secara umum dapat diterima oleh setiap suku sebagai identitas yang menyatukan semua suku, bahasa dan budaya asli di Kalimantan.

Klik di sini: MAANYAN


2 komentar:

Tulisan Yang Paling Sering Dibaca